Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 12. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2020

1. Pemaparan Diskriptif tentang Produk Barang/Jasa

Deskripsi produk adalah penjelasan singkat mengenai produk barang/jasa yang ditawarkan. Penjelasan sederhana mungkin cukup jelas bagi orang awam, namun investor/klien mungkin tidak memahami produk yang ditawarkan. Dalam melakukan pendeskripsian produk harus memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut, yaitu:

a.       Menggunakan gaya bahasa lugas

b.      Tidak menggunakan jargon atau istilah khusus yang tidak awam.

c.       Jujur mengenai informasi produk

d.      Menekankan karakteristik unik yang hanya dimiliki produk.

e.      Menggunakan ilustrasilvisualisasi produk sebagai pendukung teknis. 

Deskripsi produk barang/jasa harus memiliki penjelasan sebagai berikut.

a.       Sebutkan nama merek produk dan visualisasi produk.

b.      Uraikan spesifikasi kondisi bentuk, jenis dan kemasan produk

c.       Uraikan kandungan isi atau unsur pembentuk produk.

d.      Uraikan manfaat kandungan isi produk

e.      Uraikan benefit penggunaan produk bagi konsumen

f.        Uraikan keunikan yang hanya dimiliki oleh produk

g.      Informasikan tentang hak paten/ hak cipta/ sertifikasi halal/ sertifikasi penghargaan co. ISO. 

2. Pemaparan Naratif tentang Produk Barang/Jasa

Kita dapat menggunakan naratif dalam menjelaskan satu produk/jasa. Naratif dalam produk/jasa digunakan untuk menjelaskan suatu rincian produk/jasa yang akan dipromosikan atau diproduksi. Naratif juga dapat digunakan dalam suatu pengungkapan dalam iklan bagaimana produk barang/ jasa tersebut dibuat. Dalam menjelaskan suatu produk barangjasa sering kali menggunakan jasa iklan untuk mempromosikan produk barang/jasa yang akan di iklankan, yang berarti iklan tersebut harus dapat menjelaskan bagaimana produk barang/jasa tersebut secara detail. Sebagai contoh: suatu iklan produk minuman kesehatan dapat menjelaskan bagaimana produk tersebut dibuat, apa fungsi produk minuman tersebut dan apa saja bahan-bahan yang digunakan dalam membuat poduk minuman kesehatan. Dengan langkah ini maka naratif dapat digunakan dalam membuat produk barang/jasa.


3. Argumentatif atau Persuasif tentang Produk Barang/Jasa

Apa yang harus kita persiapkan ketika kita ingin menjual suatu produk barang atau jasa? Kita harus mempunyai trik-trik yang jitu agar para calon konsumen tertarik dan mau membeli produk barang atau jasa yang kita tawarkan. Apabila dari awal calon konsumen sudah tidak tertarik dengan produk banrang atau jasa yang kita tawarkan, bagaimana mereka mau membeli? Bagaimana mereka percaya terhadap produk barang atau jasa tersebut?

Persuasif berisi ajakan, perintah ataupun bujukan untuk melakukan sesuatu hal pada produk barang/jasa. Persuasif sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu persuade yang artinya mengajak, membujuk, atau menyuruh. Persuasif biasanya bersifat subjektif karena isinya merupakan murni pandangan pribadi tentang suatu produk. Karena tujuannya untuk mengajak, maka tidak jarang dalam argumentasi sering kali ditemukan data-data pendukung sebagai penguat iklan produk barang/jasa, sehingga audience akan lebih yakin dan tidak ragu untuk melakukan apa yang disarankan oleh pengiklan.


Silahkan kerjakan Tugas 9:

Link Tugas 9

Posted by Rakhmi Rusdiani On Oktober 19, 2020 No comments READ FULL POST

Kamis, 01 Oktober 2020

Standardisasi dalam Kaitannya dengan Pengujian Produk

Standardisasi merupakan penentuan ukuran yang harus diikuti dalam memproduksikan sesuatu. Standarisasi juga merupakan proses pembentukan standar teknis, yang bisa menjadi standar spesifikasi, standar cara uji, standar definisi, prosedur standar (atau praktik), dan lain-lain, Istilah standardisasi berasal dari kata standar yang berarti satuan ukuran yang dipergunakan sebagai dasar pembanding kuantitas, kualitas, nilai, dan hasil karya yang ada. Dalam arti yang lebih luas maka standar meliputi spesifikasi baik produk, bahan maupun proses. Suatu produk tidak boleh tidak standar, namun harus atau sedapat mungkin diikuti agar kegiatan maupun hasilnya boleh dikatakan dapat diterima umum oleh penggunaan standee atau ukuran ini adalah hasil kerja sama pihak-pihak yang berkepentingan dalam industri dimana perusahaan itu berada.

Standardisasi diimplementasikan ketika perusahaan mengeluarkan produk baru ke pasar. Dengan menggunakan standarisasi, kelompok dapat dengan mudah berkomunikasi melalui pedoman yang ditetapkan dalam rangka untuk menjaga fokus. Terdapat empat teknik yang berbeda untuk standardisasi, yaitu penyederhanaan atau variasi kontrol, kodifikasi, nilai rekayasa, dan statistik proses kontrol.

1. Proses Standardisasi

    Proses standardisasi meliputi proses perencanaan kegiatan dan fungsi untuk mempersiapkan rencana dan instruksi untuk menghasilkan bagian-bagian dalam sebuah produk. Perencanaan dimulai dengan gambar teknik, spesifikasi, bagian atau daftar bahan dan ramalan permintaan. Hasil dari perencanaan ini sebagai berikut.

  1. Rute produksi adalah rute yang menetapkan operasi, operasi urutan, pusat-pusat kerja, standar, dan perkakas. Rute ini yang menjadi masukan utama untuk sistem manufaktur perencanaan sumber daya untuk mendefinisikan operasi untuk tujuan pengendalian produksi aktivitas dan menentukan sumber daya yang diperlukan untuk persyaratan kapasitas perencanaan tujuan.
  2. Proses rencana yang biasanya menyediakan lebih rinci, instruksi kerja langkah demi langkah termasuk dimensi yang terkait dengan operasi individu, parameter pemesinan, set-up instruksi, dan pemeriksaan jaminan kualitas.
  3. Fabrikasi dan perakitan untuk mendukung pembuatan gambar (sebagai lawan dari gambar teknik untuk menentukan bagian).
  4. Perencanaan proses manual didasarkan pada pengalaman seorang insinyur manufaktur dan pengetahuan tentang sarana produksi, peralatan, kemampuan mereka, proses, dan perkakas.

2. Pengendalian Mutu

    Pengendalian mutu, atau quality control, adalah proses penilaian dan pengawasan kualitas atas hal hal yang berkaitan dengan produksi. ISO 9000 mendefinisikan pengendalian mutu sebagai "Bagian dari manajemen kualitas yang berfokus pada pemenuhan standar kualitas suatu produk".

a. Pendekatan pengendalian mutu

    Pendekatan pengendalian mutu ditekankan pada aspek-aspek berikut.

  1. Elemen-elemen produksi seperti pengendalian, manajemen pekerjaan, proses produksi, performa pekerjaan, dan kriteria integritas.
  2. Kompetensi produksi, misalnya pengetahuan, keahlian, pengalaman dan kualifikasi pekerjaan.
  3. Elemen lunak, seperti pegawai, integritas, kebiasaan di dalam perusahaan, motivasi, semangat tim, dan hubungan kualitas.
  4. Pengendalian produksi, meliputi inspeksi visual. Inspeksi visual dilakukan oleh pihak pengendali mutu. Setelah diinspeksi, pengendali mutu akan membuat daftar dan deskripsi mengenai kecacatan produk, seperti retak dan goresan. Daftar tersebut lalu digunakan sebagai contoh produk yang tak lolos kualifikasi mutu.

b. Tujuan pengendalian mutu

    Penekanan pada pengendalian mutu terletak pada pengujian produk untuk mendapatkan produk yang cacat. Dalam pemilihan produk yang akan diuji, biasanya dilakukan pemilihan produk secara acak (menggunakan teknik sampling). Setelah menguji produk yang cacat, hal tersebut akan dilaporkan kepada manajemen pembuat keputusan apakah produk dapat dirilis atau ditolak. Halini dilakukan guna menjamin kualitas dan merupakan upaya untuk meningkatkan dan menstabilkan proses produksi (dan proses-proses lainnya yang terkait) untuk menghindari, atau setidaknya meminimalkan isu-isu yang mengarah kepada kecacatan-kecacatan di tempat pertama yaitu pabrik.

c. Pendekatan dalam pengendalian mutu

    Di bawah ini merupakan pendekatan pendekatan dalam pengendalian mutu yang banyak digunakan di berbagai perusahaan.

          Statistical Quality Control (SQC)

          Total Quality Control (TQC)

          Statistical Process Control (SQC)

          Company-wide Quality Control (CQC)

          Total Quality Management  (TQM)

          Enam Sigma (6σ)

d. Pengendalian mutu pada produk hardware

    Suatu perusahaan barang dan jasa harus selalu melakukan pengendalian mutu terhadap suatu produk di dalam lingkungan virtual untuk menghindari penghentian sementara (outage). Dalam rekayasa dan manufaktur, pengendalian mutu atau pengendalian kualitas melibatkan pengembangan sistem untuk memastikan bahwa produk dan jasa dirancang dan diproduksi untuk memenuhi atau melampaui persyaratan dari pelanggan. Sistem-sistem ini sering dikembangkan bersama dengan disiplin bisnis atau rekayasa lainnya dengan menggunakan pendekatan lintas fungsional. ISO 9000 dan TQM (Total Quality Management) adalah contoh standar dan pendekatan yang digunakan untuk pengendalian mutu. 

    Beberapa teknik telah dikembangkan untuk memelihara pengendalian mutu, diantaranya adalah pemeriksaan total, mengecek noda, pengendalian mutu secara statis, dan nol cacat. Sebagai teknik pengendalian mutu, pemeriksaan total melibatkan kelengkapan dan pemeriksaan total pekerjaan yang diproduksi oleh masing-masing karyawan untuk menentukanya atau tidaknya standar mutu minimum telah dicapai. Jika bukan, ukuran mengoreksi barangkali akan diambil. Pemeriksaan total diinginkan untuk tertentu jenis pekerjaan ketatausahaan.

    Seperti contoh yang umum pemeriksaan total adalah koreksi cetakan pekerjaan diketik. Lain contoh pekerjaan ketatausahaan yang sering menerima total pemeriksaan adalah verifikasi kalkulasi seperti ilmu hitung penting dan hasil menyusun data statistik. Oleh karena itu sifat alami beberapa bentuk pekerjaan ketatausahaan, pemeriksaan total mungkin tidak perlu. 

    Keberhasilan pengendaliam mutu dapat diukur dari indikator-indikator sebagai berikut.

  1. Relevansi, yakni hubungan kegiatan perusahaan dan produk yang dihasilkannya dengan kebutuhan masyarakat pengguna yang menjadi target kegiatan.
  2. Efisiensi, yakni kehematan penggunaan sumber daya dana, tenaga, waktu, untuk produksi dan penyajian produk perangkat keras yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengguna.
  3. Efektivitas, yakni kesesuaian perencanaan dengan hasil yang dicapai, atau ketepatan sistem, metode, dan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan produk yang direncanakan.
  4. Akuntabilitas, yakni dapat tidaknya kinerja tersebut dipertanggungjawabkan.
  5. Kreativitas, yakni kemampuan mengadakan inovasi, pembaharuan, atau menciptakan sesuatu yang sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk kemampuan evaluasi diri.
  6. Empati, yakni kemampuan perusahaan memberikan pelayanan sepenuh dan setulus hati kepada semua khalayak sasaran.
  7. Ketanggapan, yakni kemampuan perusahaan memperhatikan dan memberikan respons terhadap keadaan serta kebutuhan masyarakat pengguna dengan cepat dan tepat.
  8. Produktivitas, yakni kemampuan perusahaan untuk menghasilkan produk perangkat keras yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengguna.

    Silahkan kerjakan tugas 8:

Posted by Rakhmi Rusdiani On Oktober 01, 2020 No comments READ FULL POST

Minggu, 27 September 2020

 A.      Pengujian Produk

Pengujian produk merupakan bagian dari aspek pengembangan produk. Pengujian produk dapat berfungsi sebagai alat untuk mengetahui kelayakan produk di mata konsumen. Pengujian produk dilakukan karena produsen ingin mengetahul nilai dan daya guna barang tersebut sebelum dilempar ke pasaran. Pengujian produk adalah strategi untuk meningkatkan aspek perlindungan konsumen. Pengujian produk merupakan tonggak awal datangnya era konsumsi modern.

Pengujian produk dapat dilakukan oleh pembuat produk yang bekerja sama dengan peneliti independen atau peneliti yang ditunjuk oleh pemerintah. Pengujian produk memakai dasar metode pengujian llmiah. Namun, terdapat pula beberapa pihak yang melakukan pengujlian produk dengan metode ciptaannya sendiri demi memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Dalam tes perbandingan, dua atau lebih sampel produk yang sama dijadikan objek eksperimen dalam suatu kondisi yang sama.

1.       Tujuan Pengujian Produk

Pengujian produk dilakukan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu, sebagai berikut.

  1. Memastikan bahwa persyaratan spesifikasi, regulasi dan kontrak produk dapat terpenuhi.
  2. Memutuskan apakah produk tersebut sudah berjalan di jalur yang semestinya.
  3. Alat demonstrasi produk.
  4. Menetapkan kesesuaian produk terhadap penggunaan akhir.
  5. Menyediakan dasar komunikasi teknis suatu produk.
  6. Menyediakan informasi perbandingan dengan produk produk lain.
  7. Upaya menciptakan produk yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.
  8. Membantu pemecahan masalah terhadap kendala produk.
  9. Menentukan potensi mpenghematan dalam produksi suatu produk.

2.       Keuntungan dan Kerugian Pengujian Produk

Pengujian produk sering kali dikritisi karena pengujian produk dirasa gagal dalam memperbaiki kegagalan produk lama. Pihak manajemen dirasa bertanggung Jawab karena mereka melakukan pengujian produk dengan cara-cara yang kaku dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Banyak yang menganggap manajemen penguji produk malah akan merugikan suatu produk, alih- alih mensukseskan suatu produk. Alasan lain atas kritik terhadap pengujian produk adalah bahwa pengujian produk hanya mengurusi masalah masalah yang kurang penting atas suatu produk.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pengujian produk dapat membawa keuntungan, baik bagi produk itu sendiri ataupun bagi konsumen. Berikut adalah keuntungan dan kerugian pengujian produk.

a. Keuntungan pengujian produk

Keuntungan dalam pengujian produk sebagai berikut.

1)  Mencoba strategi pemasaran

Jika produsen suatu produk barang/jasa hanya menjual satu produk saja, maka perusahaan tersebut akan mengalami masalah dalam aspek pemasaran. Dengan adanya pengujian produk, kita dapat mengetahui strategi pemasaran mana yang akan diterapkan. Dengan adanya pengujian produk, produsen produk dapat membuang fitur-fitur yay tidak dibutuhkan oleh konsumen, yang dalam hal ini adalah masyarakat umum, sehingna produsen produk dapat menghemat biaya produksi. Selain itu, produsen produk menkohsumen jenis apa yang bisa dijadikan sasaran penjualan.

2)  Memberikan informasi mengenai produk

Dengan melakukan pengujian produk, perusahaan produsen akan mendapatkan masuk dari para konsumen mengenai produk yang akan diluncurkan. Konsumen dan penguji arisn plhakarang paling mengetahui bagaimana informasi dari produk barang/jasa tersebut.

3)  Sebagai upaya untuk mengatur strategi merek

Konsumen membeli produk karena produsen tersebut memiliki merek yang terkenal atau memiliki reputasi dalam aspek keamanan dan performa produk. Dengan melakukan pengujian produk, perusahaan dapat mengetahui persepsi konsumen mengenai produ dalam kaitannya dengan keamanan dan performanya.

4)  Membantu produsen mencermati kesalahan

Perusahaan tidak akan mengetahui cacat apa yang ada di dalam suatu produk sarnpai produk tersebut dipegang oleh para konsumen dan penguji. Dengan adanya pengujian produk, produsen produk dapat mengerti cacat apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya pengembalian barang atau penggunaan garansi produk.


b. Kerugian pengujian produk

Risiko dan potensi kerugian dalam melakukan pengujian produk sebagai berikut.

1) Pengujian produk cenderung dapat membuat perusahaan membayar biaya ekstra

Pengujian produk selalu memberikan risiko bagi suatu perusahaan. Risiko-risiko dalam proses pengujian produk biasanya berupa sampel, ukuran sampel yang tak sesuai, kesalahan pengukuran, dan kesalahan dalam mendeskripsikan produk yang diuji kepada konsumen. Tapi, potensi kesalahan kesalahan yang timbul akan dapat diatasi oleh metode analisa yang fepat. Masalah yang lebih besar akan timbul jika pengujian produk bersinggungan dengan tujuan bisnis perusahaan. Sebagai contoh, pengujian produk yang memakan waktu sangat lama akan menurunkan tingkat permintaan suatu produk, sehingga perusahaan akan merugi akibat turunnya permintaan atas produk tersebut.

2)  Permasalahan-permasalahan dalam penerapan pengujian produk

Banyak pihak yang khawatir akan permasalahan permasalahan yang timbul dalam penerapan pengujian produk. Permasalahan permasalahan yang dapat timbul dalam pengujian produk sebagai berikut.

1) Menguji produk yang salah, maksudnya adalah para penguji produk melakukan pengujian pada aspek yang salah dalam suatu produk (hanya fisiknya saja, padahal nilai produk yang sesungguhnya bukan berasal dari aspek fisik).
2) Melakukan perbandingan dengan produk yang salah, melakukan pengujian dengan pesaing bisnis yang lebih lemah.
3) Menanyai pihak yang salah, melakukan wawancara yang tidak mengetahui seluk beluk alas produk tersebut.
4) Melakukan pengujian pada lingkungan pasar yang berbeda dari lingkungan pasar asli produk tersebut,
5) Melakukan pengujian kepada segmen konsumen yang tidak sesuai dengan produk
6) Melakukan pengujian dengan penerapan harga yang keliru.

     3. Pihak-Pihak yang Berperan dalam Pengujian Produk Barang dan Jasa

        Pihak-pihak yang berperan dalam pengujian produk sebagai berikut.

a.   Pemerintah

Peran umum yang dilakukan pemerintah dalam pengujian produk barang dan jasa menetapkan hukum yang menyatakan kewajiban produsen untuk menjelaskan dan menjamin keamanan produknya. Sehubungan dengan perangkat keras, pemerintah mengatur standarisasi perangkat keras dalam Peraturan pemerintah Nomor 82 tahun 2012 tentang "Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik"

b.   Perusahaan

Peran perusahaan dalam pengujian produk adalah menyediakan produk dan layanan yang sesuai dengan standar perusahaan. Biasanya, standar yang diterapkan adalah standar fakultatif (artinya, perusahaan tersebut menetapkan aturan untuk dirinya sendiri), dan standar wajib (dikeluarkan pemerintah). 

        4. Konsep Benchmarking pada Pengujian Produk

Benchmark atau benchmarking merupakan tindakan pengujian dengan cara menjalankan beberapa program, kumpulan program, atau operasi lain yang bertujuan untuk mengetahui informasi dari produk yang dibuat. Sebagai contoh: performance dari komputer dapat diketahui dengan menguji menggunakan Benchmark, Biasanya diasosiasikan dengan mengevaluasi karakteristik performansi dari hardware komputer, seperti operasi floating point CPU. Benchmark menyediakan metode perbandingan performansi dari berbagai subsistem lintas arsitektur chip/sistem.

  Benchmarking bukan hanya diterapkan ke dalam pengujian hardware semata. Benchmarking dapat diterapkan di dalam setiap lini usaha. Secara umum, proses benchmarking biasanya terdiri dari enam langkah yaitu:

a. Menentukan apa yang akan dibenchmark

Hampir segala hal dapat di benchmark antara lain:

1) Suatu proses lama yang memerlukan perbaikan.
2) Suatu permasalahan yang memerlukan solusi.
3) Suatu perancangan proses baru.
4) Suatu proses yang upaya-upaya perbaikannya selama ini belum berhasil.

  Perlu dibentuk suatu tim peningkatan mutu yang akan menyelidiki proses dan permasalahannya. Tim ini akan mendefinisikan proses yang menjadi target, batas-batasnya, operasi-operasi yang dicakup dan urutannya, dan masukan (input) serta keluarannya (output).

         b. Menentukan opa yang akan diukur

Ukuran atau standar yang dipilih untuk dilakukan benchmark-nya harus yang paling ka dan besar kontribusinya terhadap perbaikan dan peningkatan mutu. Tim yang bertugas review elemen-elemen dalam proses dalam suatu bagan alir dan melakukan diskusi tentang ukuran dan standar yang menjadi fokus, Contoh-contoh ukuran adalah misalnya durasi waktu penyelesaian, waktu penyelesaian untuk setiap elemen kerja, waktu untuk setiap pengambilan keputusan, variasi-variasi waktu jumlah aliran balik atau pengulangan, dan kemungkinan-kemungkinan terjadinya kesalahan pada setiap elemennya. Jika memang ada pihak lain (internal dan eksternal) vang berkepentingan terhadap proses ini maka tuntutan atau kebutuhan (requirements) mereka harus dimasukkan atau diakomodasikan dalam tahap ini.

Tim yang bertugas dapat pula melakukan wawancara dergan pihak yang berkepentingan terhadap proses tersebut (dapat pula dipandang sebagai pelanggan) tentang tuntutan dan kebutuhan mereka dan menghubungkan atau mengkaitkan tuntutan tersebut kepada ukuran dan standar kinerja proses, Tim kemudian menentukan ukuran-ukuran atau standar yang paling kritis yang akan secara signifikan meningkatkan mutu proses dan hasilnya. Juga dipilih oformasi seperti apa yang diperlukan dalam proses benchmarking ini dari organisasi lain yang menjadi tujuan benchmarking.

        c. Menentukan kepada siapa akan dilakukan benchmark

Tim peningkatan mutu kemudian menentukan organisasi yang akan menjadi tujuan benchmarking ini. Pertimbangan yang perlu adalah tentunya memilih organisasi lain tersebut yang memang dipandang mempunyai reputasi baik bahkan terbaik dalam kategori ini.

        d. Pengumpulan data/kunjungan

Tim peningkatan mutu mengumpulkan data tentang ukuran dan yang telah dipilih terhadap organisasi yang akan di benchmark. Pencarian informasi ini dapat dimulai dengan yang telah dipublikasikan: misalkan hasil-hasil studi, survei pasar, survei pelanggan, jurnal, majalah dan lain-lain. Barangkali juga ada lembaga yang menyediakan bank data tentang benchmarking untuk beberapa aspek dan kategori tertentu. Tim dapat juga merancang dan mengirimkan kuesioner kepada lembaga yang akan di benchmark, baik itu merupakan satu-satunya cara mendapatkan data dan informasi atau sebagai pendahuluan sebelum nantinya dilakukan kunjungan langsung.

Pada saat kunjungan langsung (site visit), tim benchmarking mengamati proses yang menggunakan ukuran dan standar yang berkaitan dengan data intemal yang telah diidentifikasi dan dikumpulkan sebelumnya. Tentu akan lebih baik jika ada beberapa obyek atau proses yang dikunjungi sehingga informasi yang didapat akan lebih lengkap. Asumsi yang perlu diketahui adalah bahwa organisasi atau lembaga yang dikunjungi mempunyai keinginan yang sama untuk mendapatkan informasi yang sejenis dari lembaga yang mengunjunginya yaitu adanya keinginan timbal balik untuk saling membenchmark.

Para pelaku benchmarking telah dapat menyimpulkan bahwa kunjungan langsung kepada organisasi dengan praktik terbaik dapat menghasilkan pandangan dan pemahaman lebih dalam dibandingkan dengan cara-cara pengumpulan data yang manapun. Kunjungan memungkinkan kita untuk secara langsung berhubungan dengan "pemilik proses" yaitu orang- orang yang benar-benar menjalankan atau mengelola proses tersebut,

       e. Analisis data

Tim peningkatan mutu kemudian membandingkan data yang diperoleh dari proses yang di-benchmark dengan data proses yang dimiliki (internal) untuk menentukan adanya kesenjangan (gap) di antara mereka. Tentu juga perlu membandingkan situasi kualitatif misalnya tentang sistem, prosedur, organisasi, dan sikap. Tim mengindentifikasi mengapa terjadi kesenjangan (perbedaan) dan apa saja yang dapat dipelajari dari situasi ini, yang sangat penting adalah menghindari sikap penolakan, jika memang ada perbedaan hal nyata maka kenyataan itu harus dapat diterima dan kemudian disadari bahwa harus yang hal yang diperbaiki.

        f. Merumuskan tujuan dan rencana tindakan

Tim peningkatan mutu menentukan target perbaikan terhadap proses. Target-target ini harus dapat dicapai dan realistis dalam pengertian waktu, sumber daya, dan kemampuan yang ada saat ini; juga sebaiknya terukur, spesifik, dan didukung oleh manajemen dan orang- orang yang bekerja dalam proses tersebut. Kemudian multidisiplin yang akan memecahkan persoalan dan mengembangkan suatu rencana untuk memantapkan tindakan spesifik yang akan diambil, tahapan-tahapan waktunya, dan siapa- siapa yang harus bertanggung jawab.

Hasil ini akan diserahkan kepada para pelaksana penjaminan mutu (executive) untuk kemudian memantau kemajuan dan mengidentifikasi persoalan-persoalan yang timbul. Ukuran dan standar dievaluasi secara bertahap, barangkali diperlukan penyesuaian-penyesuaian terhadap rencana untuk dapat mengatasi halangan dan persoalan yang muncul, Juga para pelaksana memerlukan umpan balik dari mereka yang berkepentingan terhadap proses dan hasilnya (stakeholders).

Kesenjangan standar mungkin saja tidak dapat dihilangkan karena target organisasi terus saja berkembang dan memperbaiki diri. Yang lebih penting dari semata-mata mengejar kesenjangan adalah menjadikan benchmarking sebagai suatu kebiasaan, yang akan mendorong untuk terus memperbaiki diri. Jika perlu bahkan dapat dibuat atau dibentuk suatu departemen atau divisi tersendiri yang bertanggung jawab melaksanakan benchmarking secara terus menerus (berkelanjutan). dapat diperluas dengan melibatkan.

5. Pengujian Ketahanan Produk

        Ketahanan produk adalah kemampuan suatu produk untuk melakukan kegiatan seperti yang dinginkan oleh konsumen tanpa kegagalan dan sesuai dengan batas performa suatu produk. Agar suatu produk mendapatkan ketahanan produk, perusahaan harus melakukan pengujian berupa serangkaian tugas. Tugas tugas yang diberikan akan berpengaruh pada ketahanan produk barang/ jasa. Pengujian tersebut dapat berupa pengujian pemilihan material, struktur geometri, toleransi desain, proses manufaktur, teknik perakitan, pengiriman dan penanganan dalam pengiriman, kondisi operasional dan petunjuk perawatan. Berikut adalah hal hal yang berkaitan dengan pengujian ketahanan produk.

        1) Pengujian atas persyaratan dan batasan produk

Pengujian tersebut dimulai dari identifikasi serangkaian syarat dan batasan produk yang ditentukan dari aktivitas pasar atau subsistem-subsistem mana yang cocok dengan produk tersebut. Setelah itu, hasil dari pengujian persyaratan dan batasan produk akan dibuat menjadi dokumen. Dokumen tersebut harus disahkan oleh beberapa pihak yang berwenang, mulai dari ahli rekayasa, manajemen, sampai konsumen, Setelah disahkan, maka pihak pembuat produk barang dan jasa akan membuat serangkaian deskripsi mengenai spesifikasi produk yang dirasa sesuai dengan dokumen persyaratan dan batasan yang telah disahkan.

Langkah selanjutnya adalah mempertemukan antara dokumen persyaratan dan batasan dengan dokumen spesifikasi yang diajukan oleh pihak pembuat produk barang dan jasa. Modifikasi dokumen persyaratan dan Batasan akan dilakukan apabila terdapat isi dari dokumen tersebut yang tidak dapat diimplementasikan pada produk yang dibuat. Setelah adanya kesepakatan antara pihak penguji dengan pembuat produk, maka pihak pembuat produk dapat lanjut ke tahap desain terakhir. 

        2)  Deskripsi material, komponen dan proses manufaktur

Desain hardware harus dilakukan berdasarkan pemilihan komponen, material dan proses manufaktur yang sesuai dengan dokumen persyaratan dan batasan yang telah disetujui sebelumnya. Setiap material, komponen dan proses harus dinilai dan diuji sebelum dimasukkan ke dalam proses produksi.

        3) Pengujian performa

Tujuan pengujian performa adalah untuk mengevaluasi kemampuan komponen komponen produk barang dan jasa agar dapat memenuhi syarat fungsional, mekanis, dan elektronik yang telah ditetapkan pada dokumen persyaratan dan batasan. Untuk meningkatkan performa produk, pihak pembuat produk seringkali menggunakan fitur fitur yang malah mengurangi daya tahan produk tersebut. Menambahkan fitur pada produk juga dapat menambah kerumitan produk yang nantinya akan berpengaruh pada daya tahan produk dan harga produk. 

         4) Penilaian ketahanan

Penilaian ketahanan dapat memberikan informasi mengenai kemampuan sebuah produk dalam memenuhi persyaratan performa yang telah ditentukan. Penilaian ketahanan dilakukan dengan menggunakan data tes integritas, hasil kualifikasi virtual atau hasil tes akselerasi. Ketahanan produk tidak berkaitan dengan nasib baik penggunanya, namun lebih kepada konsekuensi rasional atas usaha yang dilakukan oleh pembuat produk pada tahap desain, pengembangan dan manufaktur. Produk yang memiliki ketahanan tinggi dapat diperoleh dari desain yang kuat dan tingkat toleransi komponen yang tinggi. Pemahaman kuantitatif dan kemampuan untuk memetakan kegagalan mekanisme dalam pengujian produk dapat menjadi alat bagi pembuat produk barang dan jasa untuk membuat desain, proses dan spesifikasi komponen yang efektif.


Berikut adalah Link Tugas 7, Selamat mengerjakan! Link Tugas 7

Posted by Rakhmi Rusdiani On September 27, 2020 No comments READ FULL POST

Rabu, 16 September 2020

     Apa itu Perakitan Produk??

Pada bagian ini, kita akan membahas mengenai penerapan proses produksi dalam bidang barang. Tentu saja setiap perusahaan memiliki penerapan produksi yang berbeda-beda. Namun, kali ini kita akan mengambil contoh produksi pada produk barang yaitu hardware komputer.

Proses manufaktur perangkat keras adalah proses yang memiliki banyak langkah dan tingkatan, mulai dari konsep sampai produksi massal. Semua langkah tersebut harus dilaksanakan dengan sempurna dan tanpa kesalahan sedikitpun. Namun, seiring berjalannya waktu, proses tersebut menjadi semakin mudah. Berkembangnya alat alat seperti Arduino (alat pencipta prototype) dan printer 3 dimensi akan membuat kegiatan manufaktur terasa mudah.

Namun tetap saja, proses manufaktur produk perangkat keras adalah proses yang tidak mudah. Sebagai gambaran, proses yang dibutuhkan untuk membangun prototype sampai menuju fase produksi massal membutuhkan waktu 4-6 minggu. Dalam manufaktur dan perakitan perangkat keras, membangun satu atau dua prototype membutuhkan waktu yang lebih lama dari produksi massal produk lainnya. Tingginya permintaan untuk berinovasi menjadi salah satu penyebab sulitnya membangun. prototype perangkat keras.

Posted by Rakhmi Rusdiani On September 16, 2020 No comments READ FULL POST

Senin, 07 September 2020

Jenis Proses Produksi Ditinjau dari Arus Produksi

Terdapat berbagai jenis proses produksi jika ditinjau dari berbagai segi. Proses produksi yang dilihat dari aspek arus proses pengolahan bahan mentah sampai menjadi produk akhir, terbagi menjadi dua proses produksi terus-menerus (continous process) dan proses produksi terputus-putus (intermitten process).

 

Faktor-faktor Produksi

Penentuan produksi berdasarkan faktor-faktor seperti:

a. volume atau jumlah produk yang akan dihasilkan.

b.  kualitas produk yang disyaratkan,

c. peralatan yang tersedia untuk melaksanakan proses. 

 

Tipe proses produksi

Macam tipe proses produksi dari berbagai industri dapat dibedakan sebagai berikut. 

a. Proses produksi yang terputus-putus (Intermitten Process)

Proses produksi yang terputus adalah kegiatan produksi yang dilakukan dengan alat multiguna. Dengan menggunakan alat multiguna, kegiatan produksi dapat dilakukan secara fleksibel. Proses produksi terputus-putus dapat ditemui di dalam usaha berbasis pelayanan, misalnya usaha reparasi komputer.  Dalam usaha penyedia jasa reparasi komputer, pihak produsen melakukan proses produksi sesuai pesanan konsurnen, sehingga akan tercipta proses produksi yang berbeda-beda.  

1)    ciri produksi yang terputus-putus

Sifat-sifat atau ciri-ciri dari proses produksi yang terputus-putus (intermitten process manufacturing) sebagai berikut:

a) Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat kecil namun dengan banyak variasi (sesuai pesanan)

b) Penyusunan peralatan dilakukan berdasarkan fungsi peralatan tersebut.

c)   Mesin-mesin yang dipakai biasanya bersifat multiguna, misalnya obeng untuk melakukan reparasi berbagai macam barang.

d) Oleh karena sifatnya yang multiguna, maka operator mesin memiliki pengaruh yang besar.

e) Proses produksi tidak akan terhenti walaupun terjadi kerusakan atau terhentinya salah satu mesin atau peralatan.

2)   Kelemahan produksi terputus-putus

Kekurangan/kerugian proses produksi yang terputus-putus sebagai berikut.

a) Sulit untuk dilakukan penjadwalan proses produksi karena urutan pekerjaan yang banyak sekali di dalam memproduksi satu macam produk. Selain itu, dibutuhkan banyak sistem penjadwalan karena pasti akan terdapat perbedaan pesanan konsumen.

b) Oleh karena banyaknya proses penjadwalan proses produksi, maka pengawasan produksi (production control) dalam proses produksi terputus-putus akan sangat sukar dilakukan.

c) Biaya tenaga kerja dan biaya pemindahan bahan sangat tinggi, karena banyak dipergunakannya tenaga manusia dan tenaga yang dibutuhkan adalah tenaga yang ahli dalam pengerjaan produk tersebut.

3)   Keuntungan dari produksi terputus-putus

Dibalik kelemahannya, ternyata produksi terputus menyimpan keuntungan yang cukup signifikan. Kebaikan/kelebihan dari proses produksi yang terputus-putus sebagai berikut. 

a)   Mempunyai sistem garansi yang tinggl dalam menghadapi perubahan produk dengan variasi yang cukup besar. Fleksibilitas ini diperoleh terutama dari:

(1)  Sistem penyusunan peralatan (lay out) nya yang berbentuk proses tata letak. 

(2) Jenis mesin yang digunakan dalam proses yang bersifat umum (general purpose machines). 

(3)  Sistem pemindahan bahan yang tidak menggunakan tenaga kerja mesin tetapi tenaga manusia. 

b) Oleh karena mesin-mesin yang digunakan dalam proses bersifat umum, maka biasanya dapat diperoleh dari uang dalam investasi mesin-mesin, sebab harga mesin-mesin ini lebih murah dari mesin-mesin yang khusus (special purpose machines). 

c) Proses produksi tidak mudah terhenti akibat kerusakan atau kemacetan di suatu proses tempat / tingkat. 

 

b. Proses produksi yang kontinu (continuous process)

Produksi kontinu adalah suatu metode proses produksi di mana proses berlangsung secara terus-menerus tanpa terhenti. Proses produksi secara kontinu dilakukan pada industri dengan skala produksi besar. Pada proses produksi secara kontinu umum digunakan sistem yang terotomatisasi.

1)   Kelemahan produksi kontinu

Kekurangan / kerugian proses produksi yang terus menerus (continuous manufacturing) sebagai berikut

a. Ada kesukaran untuk menghadapi perubahan produk yang melayani oleh konsumen atau pelanggan. Jadi proses produksi seperti ini khusus untuk menghasilkan produk- produk sebagai berikut.

(1)  Permintaan (demand) nya besar dan stabil. 

(2) Gaya produknya tidak mudah berubah. 

b. Proses produksi mudah terhenti, karena apabila terjadi kemacetan di suatu tempat/ tingkat proses (di awal, di tengah atau di belakang), maka kemungkinan seluruh proses produksi akan terhenti yang disebabkan adanya hubungan saling hubungan dan urut-urutan antara masing-masing tingkat proses.

c.Terjadi kesukaran dalam menghadapi perubahan tingkat permintaan, karena biasanya tingkat produksi (rate of production) nya telah ditentukan dan bersifat permanen.

 

2)    Kelebihan proses produksi kontinu

Kebaikan/kelebihan proses produksi yang terus menerus (continuous manufacturing) sebagai berikut.

a. Dapat diperoleh tingkat biaya produksi per unit (unit production cost) yang rendah dengan volume yang dihasilkan cukup besar dan terdapat standarisasi produk. 

b.Dapat dikuranginya pemborosan-pemborosan dari pemakaian tenaga manusia, karena sistem pemindahan bahan yang menggunakan tenaga mesin/listrik. 

c. Biaya tenaga kerja (labor cost) nya rendah, karena jumlah tenaga kerjanya yang sedikit dan tidak memerlukan tenaga yang ahli (cukup yang setengah ahli) dalam pengerjaan produk yang dihasilkan. 

d. Biaya pemindahan bahan di dalam pabrik juga lebih rendah, karena jarak antara mesin yang satu dengan mesin yang lain lebih pendek dan pemindahan tersebut digerakkan dengan tenaga mesin (mekanisasi). 


c. Proses produksi berulang-ulang (repetitive process)

Produksi berulang atau produksi berulang adalah kegiatan produksi mana produksi dilakukan secara berulang ulang dalam rentang waktu yang ditentukan.

 

d.    Proses produksi campuran

Proses produksi campuran merupakan proses praduksi yang menggabungkan fungsi proses Intermitten process, continuous process serta repetitive process.  Proses produksi campuran adalah proses produksi mana produksi yang dibuat adalah membuat barang vang berbeda beda setiap hari. Proses ini dilakukan untuk mengantisipasi permintaan konsumen vang banyak. Proses produksi campuran biasanya berupa partai kecil. Pemroduksi dengan metode produksi campuran harus memiliki pengetahuan produksi bermacam-macam barang/jasa. Selain itu, mereka juga dituntut untuk cekatan, sehingga produksi akan dapat selesai sesuai dengan jadwal pengiriman.

 

Posted by Rakhmi Rusdiani On September 07, 2020 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Categories

    Blogger news

    Blogroll

    About